Wednesday, February 5, 2025

40 Hadist Seputar Keluarga Samawa (Bagian 6)

 ﷽

Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi hafizahullohuta'ala

Masjid Al-Aziz  Jl. Soekarno Hatta No. 662 Bandung

Hadist 26 : Kewajiban Berbakti Kepada  Orang Tua

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: سألت النبي صلى الله عليه وسلم: "أي العمل أحب إلى الله؟" فقال: "الصلاة على وقتها". قلت: ثم أي؟ قال: "بر الوالدين". قلت: ثم أي؟ قال: "الجهاد في سبيل الله".
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.”  (HR. Bukhari no. 5970 dan Muslim no. 85)

Ibnu Mas'ud termasuk sabiqunal awalin, dan dari golongan muhajirin, dalam hal ini dicontohkan oleh beliau bertanya bila tidak mengetahui.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ahli dzikir) jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)

Pertanyaan pada hadist ini menanyakan "amalan apa yang paling dicintai" tujuannya agar dapat memprioritaskan amalan tersebut.

Faidah pada hadist ini :
1. Amal bertingkat-tingkat.
2. Penetapan sifat cinta pada Allah. Namun sifat Allah tidaklah sama dengan mahluk.
3. Keutamaan 3 amalan yang paling dicintai Allah.
4. Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua dengan lebih mendahulukan amalan ini dari jihad.

Hadist 27 : Adil Terhadap Anak.

عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال: أَتَانِي أَبِي بِعَطِيَّةٍ، فَقَالَتْ عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي أَعْطَيْتُ ابْنِي مِنْ عَمْرَةَ بِنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً، فَأَمَرَتْنِي أَنْ أُشْهِدَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعْطَيْتَ سَائِرَ وَلَدِكَ مِثْلَ هَذَا؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ».

Dari Nu’man bin Basyir d berkata: Ayahku pernah memberiku suatu pemberian, lalu ‘Amrah binti Rawahah berkata: Saya  tidak ridha hingga engkau meminta Rasulullah n sebagai saksi atas pemberian tersebut, maka beliau datang kepada Rasulullah n seraya mengatakan: Saya memberi putraku namun  Amrah binti Rawahah menyuruhku untuk meminta engkau  sebagai saksi, lalu Nabi n bersabda: “Apakah engkau memberi  semua anakmu hal yang serupa seperti ini?” Dia menjawab:  Tidak. Maka Nabi bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah dan  berbuat adilah kepada anak-anak kalian”. Akhirnya diapun pulang dan mengembalikan pemberiannya”. (HR. Bukhari 2587 dan Muslim 1623).

Hadist ini menunjukkan wajibnya berbuat adil terhadap anak-anak kita.

Hadist 28 : Berbuat Baik Kepada Kerabat dan  Tetangga.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"صِلَةُ الرَّحِمِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَحُسْنُ الْجِوَارِ، يَعْمُرْنَ الدِّيَارَ، وَيَزِدْنَ فِي الْأَعْمَارِ."

Dari Aisyah bahwasanya Nabi bersabda: “Menyambung  silaturahmi dengan kerabat, berakhlak mulia dan berbuat baik kepada tetangga, memakmurkan rumah dan menambah panjang umur”.(HR. Ahmad 25259 dan dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 519)
Pada hadist ini terdapat 3 perbuatan :

1) Menjaga dan menyambung kekerabatan/ kekeluargaan.

2) Berahlak mulia dengan 3 hal :
1. Berbuat baik.
2. Tidak menyakiti.
3. Ramah pada orang.

3) Berbuat baik pada tetangga dengan 3 hal :
1. Berbuat baik dengan tetangga.
2. Memberi hadiah.
3. Bersabar terhadap kekurangan tetangga.

Hadist 29 : Menjaga Rahasia Rumah Tangga.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

"إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا."

Dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi beliau bersabda:  “Termasuk manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi  Allah di hari kiamat kelak adalah seorang suami istri yang bercumbu atau berhubungan badan kemudian dia menyebarkan  rahasianya”(HR. Muslim 1437)

Hadist ini menunjukkan wajibnya menjaga rahasia rumah tangga, termasuk didalamnya menjaga rahasia dan aib pasangan, terutama dalam hadist ini adalah rahasia terkait hubungan badan, suami-istri digambarkan pada Al Qur'an sebagai pakaian dengan 3 fungi :
1. Fungsi pakaian untuk menutupi aurat.
2. Fungsi pakaian untuk melindungi.
3. Fungsi pakaian sebagai perhiasan atau keindahan.

Hadist 30 : Senda Gurau Bersama Keluarga.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:
"خَرَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي سَفَرٍ وَأَنَا جَارِيَةٌ لَمْ أَحْمِلِ اللَّحْمَ، فَقَالَ لِأَصْحَابِهِ: تَقَدَّمُوا، ثُمَّ قَالَ لِي: تَعَالَيْ حَتَّى أُسَابِقَكِ، فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ، فَسَكَتَ عَنِّي، حَتَّى إِذَا حَمَلْتُ اللَّحْمَ وَبَطُؤْتُ وَخَرَجْتُ مَعَهُ فِي سَفَرٍ، قَالَ لِأَصْحَابِهِ: تَقَدَّمُوا، ثُمَّ قَالَ: تَعَالَيْ حَتَّى أُسَابِقَكِ، فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِي، فَجَعَلَ يَضْحَكُ وَهُوَ يَقُولُ: هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ."

Dari Aisyah bahwasanya dia bersama Nabi dalam suatu  safar. Nabi mengajakku balapan lari dan aku pun memenangkannya. Namun tatkala aku lebih gemuk beliau yang me­menangkan. Lalu Nabi n bersabda: “Ini balasan perlombaan  yang sebelumnya”(HR. Abu Dawud 2578 dan Ibnu Majah 1979 dan dishahihkan Al Albani).

Hadist ini menunjukkan pentingnya bersenda gurau dengan keluarga. Dan Rasulullah adalah contoh terbaik dalam berahlak pada keluarga.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ:
"خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي."

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi No. 3895, Ibnu Majah No. 1977, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Fadhillah hadist :
1. Baik dan berlemah lembut dengan keluarga.
2. Mencontoh Nabi dalam berahlak pada keluarga.

Hadist 31 : Menundukkan Pandangan dari Hal Hal Haram.

عن جرير بن عبد الله قال: سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نظر الفجاءة، فأمرني أن أصرف بصري.

Dari Jarir bin Abdillah berkata : Saya bertanya Rasulullah tentang pandangan spontanitas maka beliau memerintahkan  kepadaku untuk menundukkan pandanganku. (HR. Muslim 2159)

Menjaga pandangan dari memandang hal yang haram adalah hal yang berat, terutama pada masa kini adalah dalam kesendirian dengan gadget.

Hadist 32 : Bila Suami Tergoda.

عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن المرأة تُقبل في صورة شيطان، وتُدبر في صورة شيطان، فإذا أبصر أحدكم امرأة فليأت أهله، فإن ذلك يرد ما في نفسه.

Dari Jabir berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya  wanita datang dalam bentuk syetan/menggoda dan pergi dengan bentuk syetan/menggoda. Maka bila seorang diantara kalian melihat wanita yang bisa menggoda imannya maka hendaknya dia mendatangi istrinya karena pada istrinya terdapat  hal yang bisa meredam gejolak syahwat pada dirinya.”(HR. Muslim 1403)

Apabila seseorang tergoda syahwat maka hendaknya segera melampiaskan syahwatnya kepada pasangannya.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه، أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ قَالُوا لِلنَّبِيِّ ﷺ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ: «أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِمَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ».

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa beberapa sahabat Nabi ﷺ berkata kepada beliau:
"Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah membawa semua pahala! Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka."
Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan di dalam hubungan suami-istri kalian juga terdapat sedekah."
Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang dari kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?"
Rasulullah ﷺ menjawab: "Bagaimana menurut kalian jika dia menyalurkannya di jalan yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia menyalurkannya di jalan yang halal, ia mendapatkan pahala." (HR. Muslim, No. 1006)

Barakallahu fikum.
Wa Jazakumullahu khair.

No comments:

Anti FOMO Club

 ﷽ Kajian Kak Yogi. Parenting Bandung ISlamic Club. (BiSC) Apakah benar apabila seorang ayah tidak memiliki peran yang besar dalam pendidika...