Sunday, February 9, 2025

Anti FOMO Club

 ﷽

Kajian Kak Yogi.

Parenting Bandung ISlamic Club. (BiSC)

Apakah benar apabila seorang ayah tidak memiliki peran yang besar dalam pendidikan anak maka akan memberikan dampak yang besar ? Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, seorang ulama dan ahli fikih terkenal dalam Islam, peran seorang ayah dalam pendidikan anak sangatlah penting. Dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, Ibnul Qayyim menekankan bahwa tanggung jawab mendidik anak tidak hanya dibebankan pada ibu, tetapi juga pada ayah. Ayah memiliki peran krusial dalam membentuk karakter, akhlak, dan kepribadian anak.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa jika seorang ayah mengabaikan perannya dalam pendidikan anak, hal ini dapat memberikan dampak negatif yang signifikan. Anak mungkin kehilangan figur yang kuat dan bijaksana dalam hidupnya, yang dapat memengaruhi perkembangan emosional, spiritual, dan sosialnya. Ayah adalah sosok yang seharusnya memberikan bimbingan, perlindungan, dan teladan dalam hal kebaikan dan ketakwaan.

Apabila anak telah menginjak usia remaja maka peran ayah akan semakin penting, adapun tema hari ini adalah Parents Team Work, Dalam kitab "Kaifa Turabbi Abnaaka" (كيف تربي أبناءك) salah satu karya yang membahas tentang metode pendidikan anak dalam Islam. Penulis kitab ini adalah Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu :
1. Bermain pada 7 tahun yang pertama.
2. Didiklah pada 7 tahun yang kedua.
3. Bersahabat pada 7 tahun berikutnya.

Pada fase ke 3 ini tidak dikekang namun diajarkan, ditemani dan didampingi, pada tahap ini juga kapasitas sexual setiap anak berkembang, ini yang harus menjadi perhatian dari orangtua, mereka harus dipenuhi kebutuhan perhatian dan cinta dari orangtuanya dan dipahamkam aqidah untuk mengetahui hal yang haram, dan hal yang berbahaya apabila mereka mencari kebahagiaan melalui media sosial yang banyak memberikan dampak negatif pada pola pikirnya (Brain Rooting).

Pada hasil journal 2024 kecanduan pornografi terjadi dari usia 10 tahun, dalam hasil survey yang lain udia 9 - 11 tahun sudah pernah melihat pornografi.

Fase tumbuh kembang remaja terdapat beberapa kebutuhan :

1. Fase membentuk harga diri dan identitas diri.

Hal ini dapat dicapai dengan membangun komunikasi yang baik dalam keluarga, membangun kepercayaan dengan anak, dan bersikap konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Apabila tidak mampu mendapatkan hal ini mereka akan kehilangan kemampuan mengenal identitas dirinya / misidentity. Bagaimana membangun karakter ini pada anak ? :
1) Membangun komunikasi yang baik.
2) Memberikan bahasa-bahasa cinta, perhatian dan "act of service".
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  
**خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي**  
(رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد)
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
3) Menunjukkan kebanggaan terhadap anak. Apresiasi terhadap fase setiap keberhasilan anak sekecil apapun.
4) Komitmen dan disiplin terhadap aturan.
5) Fokus menemukan keterampilan dan minat mereka. Lakukan test dengan : ¹Membangun afirmasi & ²Mendorong minat mereka.

2. Fase intimacy / kedekatan personal.

Jurnal yang dipublish tahun 2024 kementrian kesehatan Indonesia angka bunuh diri yang tinggi didunia, bunuh diri merupakan pembunuh nomor 2 di Indonesia, dari penelitian pencetusnya adalah karena faktor percintaan. Berarti banyak masalah pemenuhan cinta dari keluarga yang kurang.

Intimacy harus diciptakan dan dibangun.
1) Orangtua kompak dalam berkomunikasi dan menunjukkan cinta.
2) Meningkatkan kualitas pembangunan diri anak.

Ajak anak berdiskusi dengan menanyakan :
1. Ceritakan tentang ayah dan bunda.
2. Ceritakan kelebihan dirinya.
3. Kelak apa yang mereka inginkan / cita-citakan.

Penggunaan gadget terbagi menjadi 2 hal yang perlu diperhatikan orangtua :
1. Safety : waktu, do and don't dan pemilihan konten.
2. Professional : penggunaan gadget menghasilkan konten yang baik dan tidak melanggar syariat.

Barakallahu fikum
Wa Jazakumullahu khair.


Wednesday, February 5, 2025

40 Hadist Seputar Keluarga Samawa (Bagian 6)

 ﷽

Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi hafizahullohuta'ala

Masjid Al-Aziz  Jl. Soekarno Hatta No. 662 Bandung

Hadist 26 : Kewajiban Berbakti Kepada  Orang Tua

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: سألت النبي صلى الله عليه وسلم: "أي العمل أحب إلى الله؟" فقال: "الصلاة على وقتها". قلت: ثم أي؟ قال: "بر الوالدين". قلت: ثم أي؟ قال: "الجهاد في سبيل الله".
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.”  (HR. Bukhari no. 5970 dan Muslim no. 85)

Ibnu Mas'ud termasuk sabiqunal awalin, dan dari golongan muhajirin, dalam hal ini dicontohkan oleh beliau bertanya bila tidak mengetahui.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ahli dzikir) jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)

Pertanyaan pada hadist ini menanyakan "amalan apa yang paling dicintai" tujuannya agar dapat memprioritaskan amalan tersebut.

Faidah pada hadist ini :
1. Amal bertingkat-tingkat.
2. Penetapan sifat cinta pada Allah. Namun sifat Allah tidaklah sama dengan mahluk.
3. Keutamaan 3 amalan yang paling dicintai Allah.
4. Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua dengan lebih mendahulukan amalan ini dari jihad.

Hadist 27 : Adil Terhadap Anak.

عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال: أَتَانِي أَبِي بِعَطِيَّةٍ، فَقَالَتْ عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي أَعْطَيْتُ ابْنِي مِنْ عَمْرَةَ بِنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً، فَأَمَرَتْنِي أَنْ أُشْهِدَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعْطَيْتَ سَائِرَ وَلَدِكَ مِثْلَ هَذَا؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ».

Dari Nu’man bin Basyir d berkata: Ayahku pernah memberiku suatu pemberian, lalu ‘Amrah binti Rawahah berkata: Saya  tidak ridha hingga engkau meminta Rasulullah n sebagai saksi atas pemberian tersebut, maka beliau datang kepada Rasulullah n seraya mengatakan: Saya memberi putraku namun  Amrah binti Rawahah menyuruhku untuk meminta engkau  sebagai saksi, lalu Nabi n bersabda: “Apakah engkau memberi  semua anakmu hal yang serupa seperti ini?” Dia menjawab:  Tidak. Maka Nabi bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah dan  berbuat adilah kepada anak-anak kalian”. Akhirnya diapun pulang dan mengembalikan pemberiannya”. (HR. Bukhari 2587 dan Muslim 1623).

Hadist ini menunjukkan wajibnya berbuat adil terhadap anak-anak kita.

Hadist 28 : Berbuat Baik Kepada Kerabat dan  Tetangga.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"صِلَةُ الرَّحِمِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَحُسْنُ الْجِوَارِ، يَعْمُرْنَ الدِّيَارَ، وَيَزِدْنَ فِي الْأَعْمَارِ."

Dari Aisyah bahwasanya Nabi bersabda: “Menyambung  silaturahmi dengan kerabat, berakhlak mulia dan berbuat baik kepada tetangga, memakmurkan rumah dan menambah panjang umur”.(HR. Ahmad 25259 dan dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 519)
Pada hadist ini terdapat 3 perbuatan :

1) Menjaga dan menyambung kekerabatan/ kekeluargaan.

2) Berahlak mulia dengan 3 hal :
1. Berbuat baik.
2. Tidak menyakiti.
3. Ramah pada orang.

3) Berbuat baik pada tetangga dengan 3 hal :
1. Berbuat baik dengan tetangga.
2. Memberi hadiah.
3. Bersabar terhadap kekurangan tetangga.

Hadist 29 : Menjaga Rahasia Rumah Tangga.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

"إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا."

Dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi beliau bersabda:  “Termasuk manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi  Allah di hari kiamat kelak adalah seorang suami istri yang bercumbu atau berhubungan badan kemudian dia menyebarkan  rahasianya”(HR. Muslim 1437)

Hadist ini menunjukkan wajibnya menjaga rahasia rumah tangga, termasuk didalamnya menjaga rahasia dan aib pasangan, terutama dalam hadist ini adalah rahasia terkait hubungan badan, suami-istri digambarkan pada Al Qur'an sebagai pakaian dengan 3 fungi :
1. Fungsi pakaian untuk menutupi aurat.
2. Fungsi pakaian untuk melindungi.
3. Fungsi pakaian sebagai perhiasan atau keindahan.

Hadist 30 : Senda Gurau Bersama Keluarga.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:
"خَرَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي سَفَرٍ وَأَنَا جَارِيَةٌ لَمْ أَحْمِلِ اللَّحْمَ، فَقَالَ لِأَصْحَابِهِ: تَقَدَّمُوا، ثُمَّ قَالَ لِي: تَعَالَيْ حَتَّى أُسَابِقَكِ، فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ، فَسَكَتَ عَنِّي، حَتَّى إِذَا حَمَلْتُ اللَّحْمَ وَبَطُؤْتُ وَخَرَجْتُ مَعَهُ فِي سَفَرٍ، قَالَ لِأَصْحَابِهِ: تَقَدَّمُوا، ثُمَّ قَالَ: تَعَالَيْ حَتَّى أُسَابِقَكِ، فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِي، فَجَعَلَ يَضْحَكُ وَهُوَ يَقُولُ: هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ."

Dari Aisyah bahwasanya dia bersama Nabi dalam suatu  safar. Nabi mengajakku balapan lari dan aku pun memenangkannya. Namun tatkala aku lebih gemuk beliau yang me­menangkan. Lalu Nabi n bersabda: “Ini balasan perlombaan  yang sebelumnya”(HR. Abu Dawud 2578 dan Ibnu Majah 1979 dan dishahihkan Al Albani).

Hadist ini menunjukkan pentingnya bersenda gurau dengan keluarga. Dan Rasulullah adalah contoh terbaik dalam berahlak pada keluarga.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ:
"خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي."

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi No. 3895, Ibnu Majah No. 1977, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Fadhillah hadist :
1. Baik dan berlemah lembut dengan keluarga.
2. Mencontoh Nabi dalam berahlak pada keluarga.

Hadist 31 : Menundukkan Pandangan dari Hal Hal Haram.

عن جرير بن عبد الله قال: سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نظر الفجاءة، فأمرني أن أصرف بصري.

Dari Jarir bin Abdillah berkata : Saya bertanya Rasulullah tentang pandangan spontanitas maka beliau memerintahkan  kepadaku untuk menundukkan pandanganku. (HR. Muslim 2159)

Menjaga pandangan dari memandang hal yang haram adalah hal yang berat, terutama pada masa kini adalah dalam kesendirian dengan gadget.

Hadist 32 : Bila Suami Tergoda.

عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن المرأة تُقبل في صورة شيطان، وتُدبر في صورة شيطان، فإذا أبصر أحدكم امرأة فليأت أهله، فإن ذلك يرد ما في نفسه.

Dari Jabir berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya  wanita datang dalam bentuk syetan/menggoda dan pergi dengan bentuk syetan/menggoda. Maka bila seorang diantara kalian melihat wanita yang bisa menggoda imannya maka hendaknya dia mendatangi istrinya karena pada istrinya terdapat  hal yang bisa meredam gejolak syahwat pada dirinya.”(HR. Muslim 1403)

Apabila seseorang tergoda syahwat maka hendaknya segera melampiaskan syahwatnya kepada pasangannya.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه، أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ قَالُوا لِلنَّبِيِّ ﷺ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ: «أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِمَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ».

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa beberapa sahabat Nabi ﷺ berkata kepada beliau:
"Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah membawa semua pahala! Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka."
Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan di dalam hubungan suami-istri kalian juga terdapat sedekah."
Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang dari kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?"
Rasulullah ﷺ menjawab: "Bagaimana menurut kalian jika dia menyalurkannya di jalan yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia menyalurkannya di jalan yang halal, ia mendapatkan pahala." (HR. Muslim, No. 1006)

Barakallahu fikum.
Wa Jazakumullahu khair.

Saturday, February 1, 2025

Pendidikan Dalam Bingkai Syariat - Kuttab Labib

 ﷽

Ustadz Hafidz Abdurrahman hafizahullohuta'ala.

Pendidikan dalam bingkai syariat.

Membentuk dan mempersiapkan seorang muslim dalam segala aspek dalam bingkai syariat untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Hati berada dalam pengaturan Allah, sebagaimana hadits :

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَٰنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ كَيْفَ يَشَاءُ

"Sesungguhnya hati-hati anak Adam semuanya berada di antara dua jari dari jari-jari (Allah) Ar-Rahman, seperti satu hati. Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki." (HR. Muslim, no. 2654)

Salah satu doa yang diajarkan Nabi ﷺ adalah :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi, no. 2140)

Aspek penting dalam tarbiyah anak :

1. Tarbiyah Imaniyah (keimanan).
Pada dasarnya setiap anak lahir dalam keadaan fitrah yaitu islam, maka tugas orangtua adalah menjaga fitrah ini.

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
(HR. Bukhari No. 1358, Muslim No. 2658)

Tugas orangtua adalah menjaga fitrah anak dan memberikan pendidikan yang baik bagi anak dalam 3 tempat ; ¹ Keluarga, ²Sekolah dan ³Masyarakat.

2. Tarbiyah Ahlak.
Ahlak adalah potret yang melekat pada jiwa seseorang, yang mendorong seseorang melakukan perbuatan alamiah.
Agar anak memiliki karakter islami maka perlu dididik dari awal saat masih kecil karena ketika telah dewasa maka akan susah untuk dibentuk. Pendidikan yang dilakukan secara berkesinambungan akan melekat pada jiwa dan kepribadian anak melalui alam bawah sadarnya dari apa yang dilihat, diajarkan dan dirasakan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)

3. Tarbiyah Jismiyah (Jasmani).
Pendidikan jasmani, pada umumnya banyak orangtua lebih fokus memperhatikan pada jasmani anak dibandingkan keimanan anak.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian."
(HR. Muslim No. 2564)

Maka sebagai orangtua hendaknya menekankan perhatian lebih besar pada keimanan anak dengan tidak mengabaikan kondisi jasmani anak.

4. Tarbiyah Akliyah (Akal).
Mendidik dan merangsang kemampuan anak untuk berkembang dengan melatih akal mereka, check apa yang dilakukan, dipelajari dan ditonton anak karena hal tersebut memberikan pengaruh pada akal anak.

5. Tarbiyah Nafs (Nafsu)
Mendidik anak untuk berempati, belajar memaafkan sehingga jiwanya terdidik dan tumbuh menjadi anak yang memiliki jiwa yang besar dan mampu bertahan dalam menempuh kesulitan.

6. Tarbiyah Istimaiah (Sosial)
Mendidik anak dalam kehidupan dan interaksi sosialnya. Memberikan batasan yang cukup agar anak dapat bersosialisasi dengan baik dengan kerasnya kehidupan.

7. Tarbiyah Jinsiyah (Seksual)
Mengajarkan anak cara berpakaian yang benar, mengajarkan anak batasan pergaulan mana yang mahrom dan mana yang bukan, seperti apa batasan sexual yang diatur dalam syariat.

Barakallahu fiikum.
Jazakumullahu khair



Sunday, January 26, 2025

Bedah kitab Syarhus Sunnah (Bagian 1)

 ﷽

Ustadz Abu Qotadah hafizahullohuta'ala.

Download Kitab : https://drive.google.com/file/d/1vgp_V1fsYliV8k1gNZSNPJCWSGf9LjEI/view?usp=drivesdk

https://www.youtube.com/live/q1Bt9z_2RBo?si=Tw-Jw8lWvRGklKhU

1. Mengenal Penulis kitab.

Penulis kitab adalah imam Al Muzani salah satu murid kibar dari Imam Syafi'i dan merupakan salah satu salafus sholeh ahlu sunnah yang wara.
Diantara kelebihan beliau adalah profesi khusus memandikan jenazah, salah satu bentuk kedekatan beliau dengan Imam Syafi'i adalah beliau adalah orang yang memandikan jenazah Imam Syafi'i.
Beliau juga termasuk orang yang sangat tahu dengan pendapat Imam Syafi'i dalam perkara fiqih.

2. Latar Belakang Penulisan Ktab.

Tujuan ulama-ulama dalam menulis kitab, diantaranya :
1) Karena menganggap penting untuk mengumpulkan keilmuan atau disebarkan.
2) Membantah penyimpangan dan menyampaikan kebenaran.
3) Karena adanya permintaan.
Dan tujuan kitab ini dibuat adalah karena tujuan yang ketiga, pada saat itu ulama sering bermajlis membahas ilmu, dan disebutlah nama-nama ulama, Imam Malik, Imam Syafi'i dan disebutlah nama Imam Muzani, dan ada yang mencegah disebutkan nama imam Muzani, diantara alasannya:
1. Tertuduh berpemahaman Qodariyah.
2. Tertuduh ahlul kalam karena mentakwil ayat Quran dengan akal.
3. Fitnah yang muncul masa itu yaitu "Ucapan yang keluar dari Al Qur'an adalah mahluk".
Ada yang kemudian menyanggah ucapan tersebut, dan diutuslah untuk mendatangi Imam Muzani untuk menjelaskan akidahnya, dengan latar belakang inilah beliau menyusun kitab untuk menjelaskan pokok-pokok akidah.

3. Nama dari Kitab Syarhus Sunnah.

Kitab ini disusun dengan 2 kalimat Syarhun dan Sunnah, ¹ Syarah dalam makna yang paling sederhana adalah penjelasan dari makna yang dimaksud, dan ² Sunnah dalam makna lughowi adalah jalan yang ditempuh sedangkan secara istilah para ulama berbeda tergantung keilmuan yang sedang dibahas, contohnya menurut fiqih ; segala perintah yang tidak wajib, menurut ulama hadist ; segala yang dinisbatkan kepada nabi baik perbuatan, ucapan maupun persetujuan, menurut ushul ; sumber hukum kedua setelah Qur'an.
Sunnah menurut ulama aqidah adalah pokok-pokok agama sesuai rukun iman, dan termasuk dalam pokok akidah adalah sikap terhadap sahabat, ahlul bait dan pemimpin.
Sunnah adalah semua perkara agama yang berkesesuaian dengan dalil al Qur'an dan Hadits, dan kebalikannya adalah bid'ah. Sunnah yang dimaksud dalam kitab ini adalah pokok agama, sehingga yang dimaksud dengan sunni adalah semua orang yang lurus akidahnya.
Berkata Imam Syufyan Atsauri sunnah adalah 10 point barang siapa yang sesuai maka ia adalah ahlussunah dan yang menyelisihi sebagiannya maka ia bukan ahlussunah.
1. Beriman pada takdir dengan urutannya.(Membantah Jahmiyah)
2. Mendahulukan kedudukan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.(Membantah Syi'ah)
3. Al Qur'an kalam Allah(membantah jahmiyah, yang mengatakan Qur'an mahluk)
4. Iman bertambah dan berkurang.(Membantah Qodariyah)
5. Beriman pada adzab kubur.
6. Beriman hari kebangkitan.
7. Beriman adanya telaga nabi.
8. Beriman adanya timbangan mizan.
9. Beriman adanya shiroth.
10. Beriman manusia melihat wajah Allah pada hari kiamat.

Terdapat4 Penyimpangan utama dalam aqidah ;
1. Khawarij.
2. Murjiah.
3. Qodariyah.
4. Rafidhah.

4. Isi Kitab Syarhus Sunnah.

Kitab ini dibuka dengan Basmallah karena :
1) Mengikuti Al Qur'an.
2) Mengikuti sunnah Rasulullah.
3) Bertabaruk dengan istianah (memohon pertolongan) kepada Allah.
4) Mengikuti ulama terdahulu.

Mualif (penulis kitab) memulai dengan doa, sifat yang paling penting dalam guru adalah sifat kasih sayang, maka kitab dimulai dengan mendoakan murid atau pembacanya dengan 3 perkara :
1) Doa agar selalu dalam ketaatan dan jauh dari maksiat.
2) Doa untuk berada dalam hidayah dan tidak tersesat.
3) Doa agar terjaga dan berpegang teguh pada Allah, Itisham kepada Allah : ¹ Bertawakal pada Allah, ² Berpegangan teguh pada petunjuk Allah.

Kitab ini menjelaskan pokok-pokok agama, dan berkata pada muridnya apabila memahami kitab ini maka insyaAllah menjamin :
1) Cukup bagi kalian untuk berpegang teguh pada ushul-ushul sunnah.
2) Jika memahami kitab ini maka akan mampu membentengi diri dan membantah propaganda syubhat dari sekte yang menyimpang.

Selanjutnya mualif mengucapkan Alhamdulillah, mengapa ? karena Allah adalah Al Khaliq, Al Maliq, Al Mudzabbir, Al Ula yang maha terpuji dan maha sempurna nama-nama, sifat dan dzatnya yang telah memberikan berbagai macam kenikmatan kepada kita.

Memulai bahasan dengan sifat-sifat Allah dan nama-nama Allah, yang pertama dibahasa adalah sifat Ulu (Allah yang maha tinggi) :
1) Sifat Allah maha tinggi - maha sempurna.
2) Sifat Allah maha berkuasa.
3) Dzat Allah tinggi diatas mahluknya, dan Allah beristiwa diatas arsy.

Ahlussunah meyakini tauhid terbagi 3 berdasar penelitian Al Qur'an dan Sunnah, Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Tauhid secara makna artinya keyakinan bahwa Allah itu esa.
¹ Tauhid Rububiyah : Mengesakan Allah dalam menciptakan, kepemilikan dan pengaturan.
² Tauhid Uluhiyah : Mengesakan Allah dalam ibadah.
³ Tauhid Asma wa Sifat : Beriman Allah punya nama dan sifat, nama dan sifat Allah sesuai dengan keagungan Allah, dan tidak ada yang menandingi dengan nama dan sifat Allah, dan tidak ada yang serupa dengan Allah.

Dalam kitab ini hanya dibahas pada point akidah Asma wa Sifat, karena pada masa itu kaum falasifah menerjemahkan kitab Aristoteles kedalam bahasa arab yang membawa pembahasan nama dan sifat Allah kedalam pembahasan ilmu umum.
1. Mumatillah : Menetapkan sifat Allah serupa sifat mahluk, Terbagi 3 kelompok : ¹ Mengingkari nama dan sifat Allah (Kaum Jahmiyah ; Jahm Ibnu Dirham as Samarkandi), ² Menetapkan nama Allah namun mengingkari sifat, ³ Mengimani nama dan sifat Allah namun mengingkari sebagiannya (Kulabiyah Maturidiyah).

Setiap orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi maka ia akan berseteru dengan 3 kekuatan, yang kita tidak akan mampu berpegang teguh kecuali melawan 3 kekuatan ini.
1. Sayathinul jinni, was-was yang dibisikkan syaithan kedalam hati kita.
2. Sayathinul insyi, orang orang yang mendakwahkan penyimpangan.
3. Al Hawa nafs, hawa nafsu yang ada dalam diri kita, yang mendorong melakukan penyimpangan.

Kaidah dalam menetap nama dan sifat Allah,
1) Kaidah pertama, sifat Allah terbagi menjadi 2 sifat :
¹ Sifat Musbatah : Semua sifat yang sempurna, sifat yang telah Allah tetapkan dalam Qur'an maupun dalam hadist.
² Sifat Manfiah : Semua sifat yang kurang, sifat yang Allah tiadakan dalam Qur'an maupun dalam hadist.
Contoh dalam ayat Kursi dan surat al Ikhlas.
2) Kaidah kedua, Allah menyebutkan nama-namanya, Allah menyebutkan sifat-sifatnya dan Allah mengkhabarkan nama dan sifatnya. Setiap nama Allah memiliki sifat, namun tidak setiap sifat Allah memiliki nama, syarat mengkhabarkan nama Allah adalah bukan nama yang bermakna kurang.

Bagaimana menetapkan sifat Allah :
1) Semua dalil (al Qur'an dan Hadits) yang menetapkan nama dan sifat Allah.
2) Semua ayat yang menyebutkan secara spesifik sifat Allah.
3) Semua ayat yang menyebutkan perbuatan Allah.

Barakallahu fikum
Wa Jazakumullahu khair.

Wednesday, January 8, 2025

40 Hadist Seputar Keluarga Samawa (Bagian 4)



Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi hafizahullohuta'ala

https://www.youtube.com/live/ts-51lTpN5g?si=ObiH9E8Z8YrxkRzm

Masjid Al-Aziz  Jl. Soekarno Hatta No. 662 Bandung

Hadist 16 :  Kewajiban Suami Istri

عَنْ عَمْرِو بْنِ الأَحْوَصِ الْجُشَمِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ شَهِدَ حَجَّةَ الْوَدَاعِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَذَكَّرَ وَوَعَظَ، ثُمَّ قَالَ: "اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ عِنْدَكُمْ عَوَانٍ، لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ، إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا. إِنَّ لَكُمْ عَلَيْهِنَّ حَقًّا وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ حَقًّا: أَمَّا حَقُّكُمْ عَلَيْهِنَّ فَلاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ، وَلاَ يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ، وَأَمَّا حَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ فَأَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ".

Dari ‘Amr bin Ahwash al-Jusyamiy radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia menghadiri Haji Wada' bersama Rasulullah ﷺ, beliau memuji Allah, menyanjung-Nya, memberikan peringatan dan nasihat, kemudian bersabda:
“Berikanlah wasiat yang baik kepada wanita, karena mereka adalah seperti tawanan di sisi kalian. Kalian tidak memiliki kuasa atas mereka selain itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukan hal tersebut, maka pisahkanlah tempat tidur kalian dari mereka, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka menaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari alasan untuk menyusahkan mereka. Ketahuilah bahwa kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan istri-istri kalian juga memiliki hak atas kalian. Hak kalian atas mereka adalah mereka tidak boleh memasukkan orang yang kalian tidak sukai ke rumah kalian, dan tidak mengizinkan mereka menginjakkan kaki di tempat tidur kalian. Hak mereka atas kalian adalah kalian memperlakukan mereka dengan baik dalam hal pakaian dan makanan mereka.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Alhamd maknanya ; Menyebutkan kebaikan dan kesempurnaan Allah atas dasar cinta dan keyakinan.
Haji Wada adalah haji terakhir Rasulullah, dan wasiatnya diabadikan oleh para sahabat dan ulama. Hadist diatas adalah salah satu isi wasiatnya.
Tidak boleh pukulan suami pada istri sampai melukai, tujuannya adalah untuk mendidik bukan untuk melampiaskan amarah.

Faidah hadist :
1. Perhatian islam terhadap masalah rumah tangga dan terhadap wanita.(Secara khusus pada surat An Nisa)
2. Pesan untuk kaum pria sebagai pemimpin dalam rumah tangga, untuk mendidik istri dengan lemah lembut, penuh kesabaran dan kasih sayang.
3. Bahwa membimbing istri dengan beberapa tahapan ; (1) Memberi nasihat (2) Hajr, memboikot (3) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Bolehnya memukul dengan syarat ; (1) Jika istri melakukan pelanggaran berat (2) Tidak boleh pukulan yang melukai (3) Tidak boleh memukul area wajah (4) Tujuan memukul untuk mendidik bukan melampiaskan emosi.
4. Kewajiban suami berbuat baik pada istri untuk menafkahi, dan patokan nafkah dikembalikan pada urf/kebiasaan/kelaziman.

Hadist 17 : Kewajiban istri untuk taat kepada Suami.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ، فَأَبَتْ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ."

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda : "Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjang (untuk berhubungan badan), namun dia menolak, lalu suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Laknat : Dijauhkan dari rahmat Allah.
Faidah hadist :

1. Wajibnya seorang istri taat pada suami selama perintah suami bukan hal yang bertentangan dengan syariat.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
"إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ".

Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila seorang wanita menjaga salat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.'" (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ".

Rasulullah ﷺ bersabda: "Seandainya aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan dapat memenuhi hak Rabb-nya hingga ia memenuhi hak suaminya. Sekalipun suaminya meminta dirinya (untuk berhubungan), sementara ia sedang berada di atas pelana unta, ia tidak boleh menolaknya." (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)
Ketaatan istri pada suami dipetakan menjadi 3 :
1) Jika perintah suami sesuai dengan syariat. Maka wajib mengikuti meskipun tidak diperintahkan.
2) Jika perintah suami bertentangan dengan syariat. Maka tidak boleh ditaati.
3) Jika perintah suami tidak ada perintah dan larangannya dalam syariat. Maka wajib ditaati.

2. Wajibnya seorang istri memenuhi kebutuhan hasrat suami, selama tidak ada udzur syar'i, karena bila tidak dipenuhi dapat menimbulkan dampak buruk :
1) Dzalim pada suami, karena diantara tujuan pernikahan adalah menjaga farji.
2) Maksiat pada Allah.
3) Membuat marah suami.
4) Mengantarkan suami terjerumus pada kemaksiatan/perzinahan.

Hadist 18 : Waspadalah, jangan mengingkari
Kebaikan pasangan.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
"لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امْرَأَةٍ لَا تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لَا تَسْتَغْنِي عَنْهُ".

Dari Abdullah bin ‘Amr dari Nabi ﷺ beliau bersabda : “Allah tidak melihat kepada seorang istri yang tidak berterima kasih kepada suaminya padahal dia sangat butuh kepada suaminya”.

Faidah hadist :
1. Hadist ini peringatan bagi istri untuk tidak kufur pada kebaikan suami, dan ini merupakan salah satu dosa yang menyebabkan banyak wanita terjatuh kedalam neraka.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"اطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ."
فَقَالُوا: "بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟"
قَالَ: "بِكُفْرِهِنَّ."
قِيلَ: "يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟"
قَالَ: "يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ."

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku diperlihatkan ke neraka, maka aku melihat mayoritas penghuninya adalah wanita.”
Mereka bertanya: “Mengapa, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.”
Lalu ditanyakan lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?”
Beliau menjawab: “Mereka kufur kepada suami dan mengingkari kebaikan. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang waktu, lalu ia melihat sesuatu (yang tidak disukainya darimu), ia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sedikit pun.’”
(HR. Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907).

4 dosa yang banyak memasukkan wanita kedalam neraka :
1) Banyak mengeluh.
2) Mengingkari kebaikan suami.
3) Sering mencela.
4) Sering menunda-nunda amal kebaikan.

2. Bersyukur terhadap kebaikan suami.

Hadist 19 : Gembira dengan anak perempuan.


عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : لَا تَكْرَهُوا الْبَنَاتِ فَإِنَّهُنَّ الْمُؤْنِسَاتُ الْغَالِيَاتُ.

Dari ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian membenci anak perempuan, karena mereka adalah penghibur yang berharga.”(HR. Ahmad)

Faidah hadist :
1. Larangan membenci anak perempuan, demikian orang jahiliyah dahulu membenci anak-anak perempuan.
2. Anak para nabi dan rasul sebagian besar perempuan.

Barakallahu fikum
Jazakumullahu khair.

Wednesday, December 18, 2024

40 Hadist Seputar Keluarga Samawa (Bagian 3)

 ﷽

Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi hafizahullohuta'ala

Masjid Al-Aziz  Jl. Soekarno Hatta No. 662 Bandung

Hadist 11 : Doa Orangtua Buat Anaknya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
"ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ."

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : Rasulullah ﷺ bersabda :
"Tiga doa yang akan dikabulkan tanpa keraguan di dalamnya: doa orang yang terzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk anaknya."
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hadist ini memberikan faidah :
1. Pentingnya doa bagi rumah tangga, dan salah satu kunci kebahagiaan rumah tangga adalah doa.
Ucapan Ibnu Taimiyah :
الدُّعَاءُ مِفْتَاحُ كُلِّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
"Doa adalah kunci segala kebaikan di dunia dan akhirat."

2. Allah mengabulkan doa dan memerintahkan kita untuk berdoa. Dalil Al Qur'an :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.'"(QS. Ghafir: 60).

3. Orang shaleh terdahulu juga berdoa meminta hal ini
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang-orang yang berkata: 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'(Surat Al-Furqan: 74)

Dalam hadist ini ada 3 golongan yang tidak ditolak doanya :
1) Doa orang terdzalimi.
اِتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
"Takutlah kalian terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah." (HR. Bukhari, no. 1496; Muslim, no. 19).
2) Doa orang musafir.
3) Doa orangtua untuk anak.

Keluarga adalah investasi yang paling berharga, dan hendaknya sering mendoakan pasangan kita, anak kita, keluarga kita dan orangtua kita. Jangan pernah mendoakan keburukan pada anak-anak kita, yang dapat merubah anak kita adalah Allah. Karena hanya Allah yang fapat memberikan hidayah

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."(QS. Al Qasas 56).

Hadist 12 : Anjuran Memperbanyak Keturunan

تَزَوَّجُوا الودودَ الوَلودَ، فإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Menikahlah dengan wanita yang penyayang lagi subur, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.
(HR. Ibnu Majah, no. 1405; Shahih menurut Al-Albani).

Fadillah dari hadist ini :
1) Anjuran menikah. Diantara tujuan syariat menikah adalah :
- Menyalurkan syahwat, menjadi wajib apabila ketika ditunda dapat menyebabkan mudharat.
- Memperoleh keturunan, karena anak investasi dunia akhirat.
- mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan.
2) Anjuran memperbanyak keturunan.
3) Anjuran menikahi wanita yang penyayang & subur (juga kriteria lain yaitu akidahnya baik dan ahlaknya baik). Apabila wanita yang dinikahi adalah janda maka dapat dibuktikan dengan anak dari suami sebelumnya, namun apabila gadis maka dengan melihat dari ibunya atau keluarganya.
4) Larangan KB yang permanen, kecuali terdapat hal yang bersifat darurat, contohnya apabila dapat mengancam nyawa sang ibu apabila mengandung lagi.
كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ فَلَمْ يَنْهَنَا
Kami melakukan azl pada masa Rasulullah ﷺ, dan hal itu sampai kepada beliau, namun beliau tidak melarang kami. (HR. Muslim, no. 1440).

Hadist 13 : Keluarga Adalah Tanggung Jawab Bersama.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
"كلكم راعٍ وكلكم مسؤولٌ عن رعيته، الإمام راعٍ ومسؤولٌ عن رعيته، والرجل راعٍ في أهله ومسؤولٌ عن رعيته، والمرأة راعيةٌ في بيت زوجها ومسؤولةٌ عن رعيتها، والخادم راعٍ في مال سيده ومسؤولٌ عن رعيته، فكلُّكم راعٍ وكلكم مسؤولٌ عن رعيته."
Rasulullah SAW bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya. Penguasa adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai rumah tangganya. Seorang budak adalah pemimpin dalam harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai harta tuannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya." (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)

Dalam hadist ini masing-masing kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawabannya, dan kepemimpinan itu bertingkat-tingkat, kepemimpinan ada yang luas dan ada yang kecil, maka hendaknya setiap kita meniatkan untuk ibadah dan fokus pada tanggung jawab kita, terlepas dari yang lain menjalankan tugasnya ataupun tidak (tidak menunggu timbal balik). Contohnya adalah istri fir'aun yaitu Asiyah yang menjalankan kewajiban sebagai seorang istri, begitu juga Nabi Nuh dan Nabi Luth yang tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang suami meskipun istrinya kafir dan tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri. Kelak kita akan diminta pertanggung jawaban atas kewajiban masing-masing.
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
"Dan tidaklah seorang yang berdosa memikul dosa orang lain." (Al-Isra' 17:15)

Diantara kewajiban Suami :
1) Menafkahi keluarganya, dengan nafkah yang halal
2) Melindungi anak dan istrinya, terutama dari api neraka.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوْا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُوْنَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang keras lagi garang, yang tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan.(At-Tahrim 6)
3) Berahlak baik pada keluarga.

Diantara kewajiban Istri :
1) Menunaikan hak suami atas dirinya.
2) Menyenangkan suami.
3) Bersyukur atas kebaikan suaminya.

Hadist 14 : Memilih Nama Terbaik Untuk Anak.


عَنْ مُسَيْبِ بْنِ حَزْنٍ قَالَ: "إِنَّ أَبِي حَزْنًا رَجَعَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: مَا اسْمُكَ؟ فَقَالَ: حَزْنٌ، فَقَالَ: "أَنْتَ سَهْلٌ". فَقَالَ : "لَا أُحِبُّ أَنْ أُغَيِّرَ اسْمَ أَبِي". فَقَالَ إِبْنُ مُسَيْبٍ: "فَفَجَعَتْنَا الْمُصِيبَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ".
Dari Musayyib bin Hazn, ia berkata: "Ayahku datang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, lalu Nabi bertanya kepadanya: 'Siapa namamu?' Ia menjawab: 'Hazn (kesedihan)'. Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: 'Engkau adalah Sahl (kemudahan)'. Ayahku menjawab: 'Saya tidak akan mengubah nama pemberian ayahku'. Ibnul Musayyib berkata: 'Oleh karenanya, kesedihan selalu menyelimuti kami setelah itu'."

Hadist ini menunjukkan pentingnya memilih nama dengan makna yang baik, karena nama adalah bentuk dari doa.

Diantara contoh nama yang baik :
1) Disandarkan kepada nama-nama Allah.
2) Nama-nama para Nabi.
3) Nama-nama para Sahabat.

Hadist ini juga menunjukkan anjuran untuk mengubah nama-nama yang memiliki makna yang buruk, atau nama orang kafir dan simbol kekufuran.

Hadist 15 : Sebaik Baik Istri

أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّك إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا، وَتُطِيعُك إِذَا أَمَرْتَهَا، وَتَحْفَظُكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ."
Dari Abu Hurairah, ia berkata: "Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: 'Istri yang terbaik adalah yang menyenankanmu ketika kamu melihatnya, yang taat kepadamu ketika kamu memerintahkannya, dan yang menjaga kehormatan dirinya serta harta suaminya.'"

Kriteria istri sholehah (sholehah : baik dalam agamanya & baik dengan sesama manusia) :
1) Taat kepada suaminya, selama perintah suami tidak melanggar syariat. Perintah suami terbagi menjadi 3 :
- Perintah sesuai dengan perintah Allah dan Rasulnya.
- Perintah bertentangan dengan perintah Allah dan Rasulnya.
- Perintah yang tidak ada dalam syariat namun juga tidak dilarang syariat.
Ketaatan istri pada suami adalah faktor utama masuk surga
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ."
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Apabila seorang wanita mendirikan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.'"
2) Menyenangkan tatkala suami memandang, maksudnya :
- Berdandan untuk suaminya.
- Ramah dan tersenyum menyambut suami.
3) Menjaga kehormatannya, terutama ketika ditinggal pergi suaminya.
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
Maka wanita-wanita yang saleh adalah mereka yang taat dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).(QS An Nisa 34)
4) Pandai mengatur keuangan, yakni tidak boros dan tidak pelit.
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.(QS Al Furqan 67)

Barakallahu fikum
Jazakumullahu khair


Saturday, December 7, 2024

Daurah Kitab Ushul Sunnah - Imam Al Humaidi

 ﷽

Kitab Ushul Sunnah, Imam Abu Bakar Al Humaidi Rahimahullah.

Ustadz Abdullah Roy hafizahullohuta'ala.

Masjid Al Aziz
Soekarno - Hatta

Menuntut ilmu agama adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim."

Dan yang paling penting adalah ilmu akidah yang dengannya dengan keyakinannya dia beragama dan mengikat hatinya, dan akidah yang bermanfaat adalah akidah yang shahihah, dan akidah yang shahih adalah yang ada pada Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah.

Imam Al-Humaidi adalah diantara penulis kitab akidah yang meninggal pada tahun 209 hijriah, yang merupakan imam ahlu Sunnah, dan diantara guru beliau adalah Fudhail bin Iyadh dan Sufyan bin Uyainah, dan diantara gurunya adalah Waqi bin Jarrah dan diantara muridnya adalah Imam Al Bukhari. Dan dikarenakan kedudukannya yang tinggi maka Imam al Bukhari disebutkan sebagai syaikh yang disebutkan pertama kali yaitu hadist Umar bin Khattab :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.
"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."

As Sunnah yang dimaksud disini adalah Al Aqidah, banyak para ulama menggunakan kalimat Sunnah yang menjelaskan masalah aqidah, diantaranya Imam Al Muzani dengan Syarhu Sunnah.

Kitab ini membahas permasalahan yang mencakup pokok-pokok aqidah, yang barangsiapa memiliki hal tersebut maka akan terhindar dari aqidah-aqidah yang sesat.

Diantara yang beliau bahas dalam kitab ini adalah :

1. Aqidah ahlu sunnah dalam beriman dengan takdir.

Aqidah menurut kami adalah seseorang beriman dengan takdir yang baik dan yang buruk, baik yang manis maupun yang pahit
Surah Al-Qamar (54:49) :
"إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ"
"Sesungguhnya, Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan takdir."

Tidak beriman seseorang hingga meyakini 4 tingkatan keimanan :
1) Beriman bahwa Allah maha mengetahui segala sesuatu, sebelum terjadinya, sebelum adanya musibah, sebelum turunnya rezeki.
Surah Al-Baqarah (2:233) :
   "وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا"
"Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
2) Beriman bahwa Allah telah menulis segala sesuatu sebelum terjadinya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: "إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ مقاديرَ الخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ".
Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya Allah telah menuliskan takdir semua makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.'
3) Beriman bahwa Allah yang menghendaki segala sesuatu.
Surah Al-Insan (Surah 76), ayat 30:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
"Dan kamu tidak dapat menginginkan sesuatu, kecuali jika Allah menghendakinya, Tuhan semesta alam."
4) Beriman bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatu.
Surah Al-Baqarah (Surah 2), Ayat 117:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَى أَمْرًۭا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ
"Dialah Pencipta langit dan bumi; dan jika Dia telah menentukan suatu perkara, Dia hanya berkata kepadanya: 'Jadilah!' Maka terjadilah."

Aqidah ahlu sunnah wal jamaah adalah beriman dengan takdir, yang baik maupun yang buruk. Apa yang sudah ditulis dilauhul mahfudz pasti akan menimpanya.

Sekte Qodariyah yang ekstrim mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui segala sesuatu kecuali setelah terjadi, yang dibawah itu mengatakan bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan manusia.

Fadhillah mengimani takdir :

1) Seseorang akan tenang dalam kehidupannya, karena mengetahui bahwa rezekinya telah diatur oleh Allah.
2) Menjadikan seseorang bersabar karena dia yakin bahwa musibah terjadi dengan kehendak Allah, dan Allah tidak menzalimi manusia.
3) Bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan, karena tidaklah sampai kepadanya kenikmatan kecuali datangnya dari Allah.
4) Memiliki tawakal yang kuat pada Allah, dan tidak yakut pada mahluk, karena seluruh mahluk berada dibawah kekuasaan Allah.

2. Aqidah ahlu sunnah dalam masalah iman.

Bahwasannya Iman adalah ucapan dan perbuatan, ini adalah Aqidah ahlu Sunnah. Iman itu  a) Diyakini dalam hati, b) Diucapkan dengan lisan dan c) Dilakukan dengan perbuatan.

Ucapan lisan (ucapan) diatas yang dimaksud :
Ucapan hati : Pembenaran keyakinan.
Ucapan lisan : Ucapan dua kalimat syahadat.

Amalan (perbuatan) diatas yang dimaksud :
Amalan hati : Rasa cinta, takut, harap dan tawakal pada Allah.
Amalan lisan : Amalan yang tidak dapat diamalkan kecuali dengan lisan.
Amalan Anggota badan : Seperti sholat dan lain lain.

Sekte Murjiah meyakini Amal bukan termasuk iman, yang paling ekstrim bahwasannya iman cukup dengan mengenal sang pencipta dan tidak diharuskan menjalankan syariat. Ada pula yang mengatakan iman cukup dengan lisan, adapula yang menggabungkan keduanya. Murjiah dari kata irja (mengakhirkan/ mengesampingkan) karena menurut mereka amalan tidaklah termasuk dalam keimanan.
 
Hadist Rasulullah bahwasannya amalan termasuk bagian dari iman.

"الإيمان بضع وستون شعبة، أفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان."
"Iman itu ada enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah mengucapkan ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan. Rasa malu juga merupakan cabang dari iman."

Fadhillah meyakini amalan bagian dari iman :
1) Memperbanyak amalan.
2) Menghindari perbuatan atau amalan yang buruk.

Ahlu sunnah wal jamaah meyakini bahwa iman bertambah dan berkurang, berdasarkan dalil :

"إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّـهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إيمَانًا ۖ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ."
"Sesungguhnya, orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah iman mereka, dan kepada Tuhan mereka mereka bertawakkal." (QS. Al-Anfal: 2)

Al khawarij meyakini bahwa iman hanya satu, sehingga pelaku dosa besar keluar dari islam.

Diantara urutan dosa - dosa yang dapat mempengaruhi iman :
- Syirik.
- Bidah.
- Dosa besar.
- Dosa kecil.

Fadhillah :
Iman adalah modal mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga seseorang berusaha memperbanyak amalan untuk menambah keimanan.

Niat mempengaruhi diterima atau tidaknya sebuah amalan.

عَنْ أُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله ﷺ:
"إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى. فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله، فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها، فهجرته إلى ما هاجر إليه."
Dari Umar bin Khattab ra. berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrahkan."

Seseorang beramal dan berucap dengan niat yang baik, namun tidak sesuai dengan Sunnah maka tidak akan bermanfaat. Ini menunjukkan keharusan kita mempelajari tata cara kita dalam beragama dan beramal yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah.

3. Aqidah ahlu sunnah tentang masalah para sahabat nabi.

Mereka mendoakan dengan rahmat para sahabat nabi, maka tidak dianggap beriman seseorang yang mencela maupun merendahkan sahabat Rasulullah.

Sahabat Rasulullah adalah setiap orang yang bertemu dengan Rasulullah, beriman dengan Rasulullah dan meninggal diatas keimanan.

أفضل الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم.
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka."

Imam Al-Humaidi menjelaskan tentang kewajiban mendoakan para sahabat, maka barangsiapa mencela, menghinakan salah satu saja dari mereka maka sudah cukup mengeluarkan mereka dari Ahlu Sunnah wal Jamaah.

Surah At-Taubah, Ayat 100 :

وَٱلَّذِينَ سَبَقُوهُمْ إِلَى ٱلْإِيمَـانِ مِن قَبْلُ ۚ أُو۟لَـٰئِكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ
"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Ansar, dan (juga) orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang besar."

Aliran Syi'ah Rafidhah meyakini bahwa Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah kafir dan masuk kedalam neraka.

4. Aqidah ahlu sunnah tentang Al Qur'an kalamullah.

Al-Qur'an adalah firman Allah, Allah yang pertama kali mengucapkan, kemudian dibawa oleh malaikat Jibril dan disampaikan kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menyampaikan kepada para Sahabat dan ditulis dan dihapal oleh Sahabat.

At-Tawbah, Ayat 6 :

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ ٱلْمُشْرِكَينَ ٱستَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَـٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُونَ
"Dan jika salah seorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar ia mendengar Firman Allah, kemudian hantarkanlah ia ke tempat yang aman. Yang demikian itu adalah karena mereka adalah kaum yang tidak mengetahui."

Menunjukkan bahwa Al Qur'an adalah Kalamullah, ini adalah keyakinan ahlu sunnah wal jamaah, barangsiapa mengatakan Al Qur'an adalah mahluk maka dia adalah seorang Mubtadi / ahlu bidah.

Diantara sekte yang meyakini Al Qur'an adalah mahluk adalah sekte Jahmiyah dan sekte Mutazillah. Hal ini adalah perkara yang besar, diantara yang mengalami tekanan oleh penguasa yang terpengaruh paham tersebut adalah Imam Ahmad bin Hambal, pada saat itu beliau berpegang teguh pada sunnah tidak mau mengatakan Al Qur'an adalah mahluk, namun beliau tidak mau memberontak pada penguasa, karena menganggap penguasa terpengaruh syubhat ulama Mutazillah dan masih Islam.

Al Imam Al Bukhari bertemu lebih dari 1000 orang guru namun tidak ada satupun yang mengatakan bahwa Al Qur'an adalah mahluk.

النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال:
"أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ."
"Rasulullah SAW bersabda: 'Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.'"

Hadist ini menunjukkan Rasulullah berlindung pada Kalimat Allah yang berarti Al Qur'an bukanlah mahluk, karena berlindung pada mahluk adalah sebuah kesyirikan dan tidak mungkin Rasulullah mengajarkan kesyirikan.

5. Aqidah ahlu sunnah dalam masalah ru'yatullah.

Iman adalah ucapan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, dan dengan sebab kesyirikan iman dapat berkurang hingga tidak tersisa.

Salah satu dari aqidah ahlu sunnah bahwa orang-orang beriman pada hari kiamat akan melihat wajah Allah, dalil juga menunjukkan bahwasanya orang beriman didalam surga (al husna) akan diberikan kenikmatan paling besar yaitu melihat wajah Allah (ziyadah).

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah :

"إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، فَلَا تَضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ."  

“Sesungguhnya kalian akan melihat Allah, seperti kalian melihat bulan purnama, dan tidak ada satu pun yang saling berdesak-desakan dalam melihat-Nya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

"وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاعِمَةٌ، لِّرَبِّهَا نَاظِرَةٌ"  
"Pada hari itu, wajah-wajah (orang-orang beriman) berseri-seri, kepada Rabb mereka melihat." (QS. Al-Ghashiyah: 8-9)

Perkara ini diingkari oleh sekte yang sesat diantaranya Mutazillah dan Syi'ah Rafidhah, menyelisihi dalil dan hadist Rasulullah.

Didunia ini Allah tidak menghendaki ada mahluk yang dapat melihat Allah, sehingga nabi Musa pun tidak dapat melihat Allah didunia ini, begitu pula Rasulullah saat miraj tidak dapat melihat Allah.


متن الحديث :  
"هل رأيت ربك؟ فقال: رأيت نوراً."
"أتى رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال: يا رسول الله، هل رأيت ربك؟ قال: رأيت نوراً."

"Seorang lelaki datang kepada Nabi SAW dan bertanya : 'Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Rabbmu?' Nabi menjawab: 'Aku melihat cahaya.'"

6. Aqidah ahlu sunnah dalam masalah Tangan Allah.

Masalah penetapan sifat bagi Allah, yaitu diantaranya sifat tangan Allah.

متن الحديث :  
"قَالَتِ الْيَهُودُ: يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ، فَأَنزَلَ اللَّهُ : قُلَتْ أَيْدٍهِمْ مَغْلُولَةٌ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ."
"Orang-orang Yahudi berkata: 'Tangan Allah terbelenggu.' Maka Allah menurunkan ayat: 'Katakanlah, 'Tangan-tangan mereka yang terbelenggu, tetapi kedua tangan-Nya terbuka. Dia memberi nafkah dengan melimpah sesuai kehendak-Nya.'"(Hadist Imam Bukhari)

Allah membantah orang yahudi yang mensifati Allah bakhil, namun tidak membantah bahwa Allah memiliki sifat tangan, kata Al Yad dalam bahasa arab dikenal dengan makna tangan, dan tangan Allah tidaklah sama dengan tangan mahluk, sifat tangan Allah adalah sesuai dengan keagungan Allah dan tidak ada yang serupa dengan Allah.

Surah Ash-Shura, ayat 11 :

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۗ أَنتُمۡ أَحَدٌۭ مِّن خَلْقِهِۦ ۖ لَا كَمِثْلِهِۦ شَيۡءٌۭ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
"Dia yang menciptakan langit dan bumi. Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Melakukan takwil terhadap sifat Allah dapat mengakibatkan beberapa pelanggaran :
1. Menyamakan Allah dengan mahluk, sedangkan tangan Allah tidaklah sama dengan tangan mahluk.
2. Takwil berakibat hilangnya makna asli dan menyelisihi dalil.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ :  
كُلُّ يَدٍ اللَّهِ يَمِينٌ
"Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Semua tangan Allah adalah tangan kanan.'"

Tidak boleh kita menambah sifat yang tidak ada dalam Al Qur'an dan hadits.


7. Aqidah ahlu sunnah dalam masalah Istiwa.

Allah beristiwa diatas arsy sebagaimana dalil Al Qur'an dan Hadist, dan tidak boleh kita serupakan dengan Istiwa mahluk.

Surah Al-A'raf (7): 54
   إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ  
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy."

Tidak ada para sahabat yang mendengar Istiwa Allah kemudian menanyakan bagaimananya ataupun mentakwilnya, karena para sahabat telah meyakini dan diajarkan bahwa Allah tidaklah serupa dengan mahluknya.

8. Aqidah ahlu sunnah dalam masalah Pelaku dosa besar.

Ahlu sunnah berpendapat para pelaku dosa besar tidaklah keluar dari islam selama meyakini 5 hal sesuai hadist.

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ مَالِكِ بْنِ أَنسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ الإِسْلَامَ بُنِيَ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا."  

"Dari Abu Abdullah Malik bin Anas, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya Islam dibangun di atas lima perkara:
1. Mengucapkan dua kalimat syahadat: "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah."
2. Melaksanakan shalat.
3. Memberikan zakat.
4. Berpuasa di bulan Ramadan.
5. Menunaikan haji ke Baitullah bagi yang mampu.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Dosa-dosa besar adalah dosa yang Allah ancam dengan neraka contohnya : zina & riba, orang khawarij berkeyakinan pelaku dosa besar keluar dari islam, sedangkan ahlu sunnah meyakini pelaku dosa besar adalah "orang yang beriman dengan keimanannya dan orang yang fasik dengan dosanya", dan juga sebagai bantahan untuk orang murjiah yang meyakini pelaku dosa besar sempurna keimanannya.

Dalilnya QS. Al-Hujurat: 9 :


وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيئَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا عَلِيمًا  
"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya menganiaya yang lain, maka perangilah golongan yang menganiaya itu hingga ia kembali kepada perintah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Allah menyebutkan 2 golongan sebagai mukmin meskipun bertikai dengan berperang dan saling membunuh, membunuh seorang muslim adalah termasuk dosa besar.

9. Aqidah ahlu sunnah dalam masalah orang yang meninggalkan salah satu dari rukun islam.

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ مَالِكِ بْنِ أَنسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ الإِسْلَامَ بُنِيَ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا."  

"Dari Abu Abdullah Malik bin Anas, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya Islam dibangun di atas lima perkara:
1. Mengucapkan dua kalimat syahadat: "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah."
2. Melaksanakan shalat.
3. Memberikan zakat.
4. Berpuasa di bulan Ramadan.
5. Menunaikan haji ke Baitullah bagi yang mampu.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Meninggalkan 2 kalimat syahadat sebagai rukun islam yang pertama maka statusnya jelas sebagai kafir, sedangkan para ulama berselisih pendapat dengan orang yang meninggalkan 4 perkara yang lain.

Perselisihan ulama dalam perkara orang yang meninggalakan salah satu dari 4 rukun islam setelah 2 kalimat syahadat :

Pendapat 1 ; Kekafiran orang yang meninggalkan salah satu dari 4 rukun islam.
Pendapat 2 ; Tidak kafir ketika meninggalkan salah satu dari 4 rukun islam yang penting dia menetapkan/meyakini tentang kewajibannya.
Pendapat 3 ; Tidak kafir kecuali apabila meninggalkan sholat.
Pendapat 4 ; Kafir apabila meninggalkan sholat dan zakat.
Pendapat 5 ; Kafir apabila meninggalkan sholat, meninggalkan zakat diiringi dengan memerangi penguasa dalam menegakkan syariat.

Menurut beliau orang yang meninggalkan syahadat, sholat dan puasa maka tidak usah didebat karena sudah jelas kekafirannya.

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا  
"Sesungguhnya, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103)

Adapun zakat, kapan saja ditunaikan maka telah mencukupi walaupun seseorang berdosa karena menahan atau menangguhkan waktunya.

Adapun masalah haji, yang seseorang telah wajib dan memiliki kemampuan, maka dia wajib segera melakukan, dan memiliki niat untuk melakukan, dan seandainya diakhirkan dia tidak berdosa, berbeda dengan zakat yang terkait dengan hak orang lain, haji adalah hubungan antara seseorang dengan Allah. Meskipun demikian seandainya seseorang meninggal dunia dalam keadaan belum berhaji padahal telah mampu berhaji maka ia akan menyesal dan akan meminta kepada Allah dikembalikan kedunia untuk dapat berhaji. Dan wajib bagi keluarga orang yang meninggal dan dalam keadaan mampu untuk menghajikan orang yang meninggal dalam keadaan mampu dan belum berhaji tersebut.

Barakallahu fikum wa Jazakumullahu khair.


Wednesday, November 27, 2024

40 Hadits Seputar Keluarga Samawa (Bagian 2)

 ﷽

Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawi hafizahullohuta'ala

Masjid Al-Aziz  Jl. Soekarno Hatta No. 662 Bandung

https://m.youtube.com/watch?v=XD26UHtZOCE

5) Meminta pendapat wanita sebelum menikah.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
الأَيِّمُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا، وَالْبِكْرُ تُسْتَأْمَرُ فِي نَفْسِهَا، وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan seorang gadis dimintai izin tentang dirinya, dan izinnya adalah diamnya.
(HR. Muslim, no. 1421)

Faidah hadist ini adalah :

1. Bahwa menikahi wanita harus dengan keridhoannya, tidak boleh dinikahkan secara paksa.
2. Boleh menikah dengan seorang janda.

6) Anjuran meringankan beban pernikahan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
إِنَّ أَعْظَمَ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ صَدَاقًا

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda :
Sesungguhnya wanita yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan maharnya.
(HR. Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Faidah hadist ini adalah :

1. Permudahkah pernikahan, zaman ini adalah zaman fitnah sehingga mempersulit pernikahan akan menimbulkan mudharat, dan dapat menimbulkan dosa.
2. Anjuran meringankan mahar, dan ringannya mahar adalah keberkahan. Kaidah memilih mahar bahwa semua hal yang halal dan dapat diperjualbelikan maka sah dapat digunakan sebagai mahar.
3. Mempemudah mahar, memiliki faidah :
- Mengamalkan sunnah Rasulullah.
- Mempermudah pernikahan, dan diantara pendapat ulama menikah adalah salah satu kunci rizki.
- Menjadikan timbulnya kasih-sayang antara suami istri.

7) Menunaikan persyaratan dalam nikah.

إِنَّ أَحَقَّ الشُّرُوطِ أَنْ تُوفُوا بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الْفُرُوجَ

“Sesungguhnya syarat yang paling berhak untuk kalian penuhi adalah yang membuat kalian menghalalkan hubungan (suami-istri).”
(HR. Bukhari no. 2721 dan Muslim no. 1418)

Hal ini karena akad nikah adalah hal yang sangat tinggi atau mulia. Persyaratan nikah terdapat 2 macam :

1. Persyaratan yang sahih : (1) Tidak bertentangan dengan syariat (2) Bertentangan dengan tujuan akad.
2. Persyaratan yang fasik : (1) bertentangan dengan syariat (2) Bertentangan dengan tujuan akad.

Faidah hadist ini :

1. Seorang muslim terikat dengan persyaratan/ perjanjiannya.
الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ

"Kaum Muslimin terikat dengan persyaratan mereka." (HR. Abu Dawud no. 3594, Tirmidzi no. 1352, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

8) Wali dan saksi dalam pernikahan.

 لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ

Tidak sah nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.(HR. Al-Baihaqi dan Ad-Daruquthni)

Fadillah hadist ini :

Salah satu syarat pernikahan adalah ada wali dan 2 saksi yang terpercaya. Wali yang dimaksud disini adalah wali bagi perempuan, ini adalah pendapat jumhur ulama, kecuali Mazhab Imam Abu Hanifah.
Dan dianjurkan untuk mengumumkan pernikahan
 إِذَا تَنَاكَحْتُمْ فَأَعْلِنُوا النِّكَاحَ
Apabila kalian menikah, maka umumkanlah pernikahan itu.(HR. Ahmad dan Hakim)

9) Mendoakan istri.

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا، فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا، وَلْيَدْعُ بِالْبَرَكَةِ، وَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Apabila salah seorang di antara kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang pembantu, maka hendaknya ia memegang ubun-ubunnya, lalu berdoalah memohon keberkahan, dan ucapkanlah: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan padanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa yang Engkau ciptakan padanya."
(Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2130 dan Ibnu Majah no. 1918)

Fadilah hadist ini :

1) Hendaknya seorang suami / istri banyak berdoa untuk dirinya dan keluarganya.
2) Bergantung pada Allah dalam setiap urusan.

10) Doa keberkahan untuk kedua mempelai.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
"بارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ"

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu 'anhu, ia berkata :
Rasulullah ﷺ bersabda :
Semoga Allah memberikan berkah kepadamu, semoga Allah memberikan berkah padamu, dan semoga Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.
(Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 1081 dan Abu Dawud no. 2131).

Fadilah hadist ini :
1. Hendaknya mendoakan istri sesudah akan nikah.
2. Mendoakan keberkahan karena dalam kehidupan selalu ada saat susah maupun senang.

Barakallahu fikum.
Jazakumullahu khair.

Saturday, November 23, 2024

Ciri Qolbun Salim (1)

 ﷽

Ustadz Ahmad Bazher hafizahullohuta'ala.

Masjid Al Aziz

https://www.youtube.com/live/MA2uRq2HBDQ

Terdapat beberapa ciri dari Qalbun Salim :

 1) Mencintai Allah.
Surah Asy-Syu’ara’: 88-89 :

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ. إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih (qolbun salim)."

 2) Mengikuti Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam beragama.

Ali Imron 31 :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Hadist :

عَنْ أَبِي نَجِيحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Dari Al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
“Wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah kesesatan.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dinilai sahih oleh Al-Albani).

Terdapat 5 perkara yang apabila selamat kita darinya maka akan mendapatkan qalbun salim :

- Selamat dari kesyirikan yang membatalkan tauhid.
- Selamat dari kebidahan yang menyelisihi sunnah.
- Selamat dari syahwat yang buruk yang menyelisihi syariat.
- Selamat dari kelalaian yang bertentangan dengan dzikir pada Allah.
- Selamat dari hawa nafsu yang menyelisihi ihlas dan ittiba pada nabi.

 3) Benci kepada dosa dan maksiat.

Nabi mendefinisikan dosa dalam hadist :

الْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
"Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan hatimu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya." (HR. Muslim no. 2553)

Al Hujurat ayat 7 :

وَاعْلَمُوٓا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِى كَثِيرٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ

"Dan ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak urusan, benar-benar kamu akan mendapat kesulitan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus."

4) Sedih jika terluput dari amal shaleh.

Ketika seseorang terluput dari amal shaleh atau ibadah maka ia akan merasa sangat sedih dibandingkan kehilangan perkara dunia.

Pada masa perang Tabuk, adalah masa paceklik dan ekonomi dikota Madinah sedang paceklik saat itu, jarak ke Tabuk 750 km dan perang untuk menghadapi pasukan Romawi, Rasulullah memotivasi untuk bersedekah dan berangkat berjihad, dan terdapat 7 orang yang tak dapat berangkat jihad karena tidak mendapatkan perbekalan dan kendaraan sehingga sedih dan bercucuran air mata karena terluput untuk ikut berpartisipasi dalam perang.

Surat At Taubah 92 :

وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَآ أَجِدُ مَآ أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوا۟ وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا۟ مَا يُنفِقُونَ

"Dan tidak ada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan (untuk pergi berjihad), lalu kamu berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan."

Pada perang ini Ustman bersedekah 100 ekor unta beserta pelana dan karpetnya, hal ini diulanginya sebanyak 3 kali. Hingga Rasulullah turun dari mimbar dan mengatakan sejak saat ini bebas apapun yang dilakukan Ustman ibn Affan. ( Sekira 10000 dinar yang disumbangkan).

Pada saat yang sama Umar bin Khattab pun berkata hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar dengan menyumbangkan setengah kekayaannya, namun disaat yang sama Abu Bakar menyumbangkan seluruh kekayaannya.

5) Semakin zuhud pada dunia dan semakin mendekatkan diri pada akhirat.

Al Imam Ibnu Rajab berkata dalam kitabnya Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam : Amalan sunnah yang paling sering dilakukan Rasulullah dan sahabatnya adalah dengan membersihkan hati, manggantungkan hati hanya pada Allah dan berharap hanya pada Allah, dan Zuhud pada dunia.

Zuhud adalah amalan hati, apa rahasia zuhud Imam Hasan Al Basri terhadap dunia :
1. Aku mengetahui bahwa rizkiku tidak akan mungkin diambil orang lain, maka aku tenang dalam mencarinya.
2. Aku mengetahui bahwa amalanku tidak mungkin dilakukan oleh orang lain, maka aku akan sibukkan diriku dengan amal shaleh tersebut.
3. Aku mengetahui bahwa Allah selalu mengawasiku, maka aku malu berbuat maksiat kepada-nya.
4. Aku mengetahui bahwa kematian pasti mengintaiku, maka aku mempersiapkan bekal untuk bertemu dengan Allah.

6) Memiliki ahlak yang mulia.

Ilmu agama yang bermanfaat akan memberikan hasil amal shaleh dan semakin mulia adab dan akhlaknya.

Hadist :

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَفْضَلُ النَّاسِ؟ قَالَ: كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ. قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: هُوَ النَّقِيُّ التَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ.

Dikatakan kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling utama?" Beliau menjawab, "Setiap orang yang hatinya mahmum (bersih) dan lisannya jujur." Mereka bertanya, "Kami tahu tentang lisan yang jujur, tetapi apa itu hati yang mahmum?" Beliau menjawab, "Yaitu hati yang bersih, bertakwa, tidak ada dosa di dalamnya, tidak melampaui batas, tidak ada kedengkian, dan tidak ada hasad (iri hati)."(HR. Ibnu Majah, no. 4216; Ahmad, no. 12513)

Barakallahu fikum
Wa Jazakumullahu khair.

Sunday, November 17, 2024

Memotivasi Keluarga Untuk Meraih Pahala.



Ustadz Abu Haidar As Sundawi. hafizahullohuta'ala.

Masjid Al Ukhuwah
Wastu kencana - Kota Bandung

Kesuksesan dalam hidup mencakup 2 hal :

1) selamat dari api neraka.
2) Dimasukkan kedalam surga

Ali Imran ayat 185 :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.


Syarat selamat dari api neraka adalah bersih dari dosa, sedangkan syarat masuk surga dengan tingkat yang tinggi adalah pahala, sehingga Allah dan rasulnya sering memotivasi kita untuk beramal dengan surga dan mengancam dengan neraka agar menjauhi.

Fungsi dari pahala :

1) Pahala memperberat timbangan amalan kebaikan, pahala seringkali diukur dengan angka maupun beratnya.
:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Artinya: Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan, namun berat dalam timbangan amal, dan dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih: 'Subhanallah wa bihamdih' (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya), 'Subhanallah al-‘Azim' (Mahasuci Allah Yang Maha Agung).”
(Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).

2) Mengurangi dosa, sebutan lain dari pahala adalah Al Hasanat (kebaikan).

3) Pahala menjadi penyebab tingginya derajat seseorang didunia dan diakhirat. Pada Al Qur'an surat Al mujadilah ayat 11 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, 'Berlapang-lapanglah dalam majelis,' maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, 'Berdirilah kamu,' maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
sehingga seringkali pahala juga diungkapkan dalam bentuk kata Ad Darajat.

4) Pahala menjadikan orang tersebut dicintai oleh Allah dan Rasulnya.
Teks Arab: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ.

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku nyatakan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah (tambahan) sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti akan Aku berikan kepadanya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti akan Aku lindungi dia.(Hadis Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, no. 6502).
Apalagi apabila amal yang dilakukan adalah Amal Muta'adi adalah amalan yang manfaatnya berguna bagi orang banyak.

Langkah-langkah memotivasi keluarga untuk meraih pahala :

1) Pelihara sholat.
Sejak dari wudhu melangkah kemasjid, sholat sunnah, dzikir mendirikan sholat hingga kembali kerumah semua ini adalah cara menambah pahala, berikan motivasi ini untuk anak agar melakukan sholat dimasjid.

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً.
Barang siapa yang bersuci di rumahnya, kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah (masjid) untuk menunaikan kewajiban dari kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan, maka setiap langkahnya akan menghapus satu kesalahan dan langkah yang lainnya akan meningkatkan satu derajat. (Hadits Imam Muslim dalam Shahih Muslim).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ."
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu meskipun dalam keadaan sulit, banyak melangkahkan kaki ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, itulah ribath (kewaspadaan berjaga-jaga di jalan Allah), itulah ribath.” (HR. Muslim)

2). Sering mengajak keluarga untuk hadir didalam kajian ilmu.
Dalam kitab Miftahul Daris Saaddah - Imam Ibnul Qayyim dalam kitab tersebut menjelaskan apa yang menjadi kunci dalam pintu surga tersebut adalah ilmu, disebutkan lebih dari 100 poin didalamnya.

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, mereka membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi rahmat, malaikat akan menaungi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan (malaikat) yang ada di sisi-Nya. (HR. Muslim, No. 2699).

3) Motivasi anggota keluarga untuk melaksanakan haji dan umrah.
Haji dan umrah dapat menghapus dosa, menghilangkan kefakiran dan Allah janjikan surga.

نَبِيَّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنِ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ”
Para jamaah haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah. Jika mereka berdoa kepada-Nya, Dia mengabulkannya. Jika mereka memohon ampunan, Dia mengampuninya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلَّا الْجَنَّةُ”
Lakukanlah secara berkesinambungan antara haji dan umrah, karena keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi, emas, dan perak. Dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga. (HR. Tirmidzi)

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ سَبْعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ”
Barang siapa yang melakukan tawaf di Baitullah (Ka'bah) sebanyak tujuh putaran dengan sempurna, maka seakan-akan ia telah memerdekakan seorang budak." (HR. Tirmidzi)

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ. قَالُوا: وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ. قَالُوا: وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ. قَالُوا: وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَالْمُقَصِّرِينَ.
Ya Allah, ampunilah orang-orang yang mencukur (rambut mereka)." Para sahabat bertanya, "Bagaimana dengan orang-orang yang hanya memendekkan rambut mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya Allah, ampunilah orang-orang yang mencukur (rambut mereka)." Kemudian mereka bertanya lagi, "Bagaimana dengan orang-orang yang hanya memendekkan rambut mereka?" Beliau tetap mengulangi ucapannya, "Ya Allah, ampunilah orang-orang yang mencukur (rambut mereka)," dan baru pada kali keempat beliau menambahkan, "Dan orang-orang yang memendekkan rambut mereka.
(Hadits Bukhari dan Muslim)

وَفْدُ اللَّهِ: الْحُجَّاجُ وَالْمُعْتَمِرُونَ، إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ، وَإِنِ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ
Rombongan Allah adalah orang-orang yang berhaji dan berumrah. Jika mereka berdoa kepada-Nya, Dia akan mengabulkan doa mereka, dan jika mereka memohon ampunan, Dia akan mengampuni mereka.

4) Motivasi keluarga untuk sering membaca Al-Qur'an.
Membaca Al Qur'an mendapatkan pahala setiap huruf yang dibaca, mendapatkan ampunan dan menghapus dosa.

Barokallah fiikum.
Wa Jazakumullahu khair.



Saturday, October 5, 2024

Tabligh Akbar - Dua Fitnah Yang Mematikan.

 ﷽

DUA FITNAH YANG MEMATIKAN
Ustadz Harits Abu Naufal Hafidhahullohuta'ala

SABTU, 05 Oktober 2024 (03 Rabiul Akhir 1446 H)

Iblis meminta pada Allah untuk ditangguhkan hukumannya pada Qur'an surat Al A'raf 14 - 15

قَالَ أَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

"Ia (Iblis) berkata: ‘Tangguhkanlah (kematianku) sampai hari mereka dibangkitkan.’"

قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ

Terjemahan: "Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi penangguhan (waktu).’"

Fitnah terbagi 2, yang dipergunakan oleh iblis untuk menggoda manusia :
1. Fitnah Syubhat.
2. Fitnah syahwat.

Kedua fitnah diatas dapat terkena kepada siapa saja, bahkan terkena pada orang-orang yang pernah bertemu Nabi, pernah dipercayakan menulis Al Qur'an, bahkan pernah menghafal ayat-ayat Al Qur'an.

Maka kita harus takut dan khawatir dari fitnah-fitnah yang menghampiri sehingga dapat mati dalam keadaan islam.

Syubhat disebutkan oleh para ulama menurut bahasa ; adalah sesuatu yang sifatnya tersamarkan, adapun secara istilah ; adalah perkara-perkara yang tersamarkan hukumnya apakah halal ataupun haram kecuali oleh orang-orang yang Allah berikan kedalaman ilmu.

Syaithan adalah musuh yang pengalamannya sudah ribuan tahun, dan akan senantiasa menggoda manusia siang dan malam melalui fitnah syubhat dan syahwat.

Surah Al-Hijr Ayat 39:

آية 39: قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkan aku, aku pasti akan menjadikan (keburukan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya.’

Fitnah syubhat muncul dari orang-orang yang lemah ilmunya dan niat yang tidak baik, bagaimanakah sikap ulama salaf dalam menyikapi apabila menemukan atau bertemu dengan syubhat maka akan menghindari tidak mendengarkan, dan menjauhi.

Surah Al-An'am, Ayat 68 (QS 6:68):

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu setelah teringat (akan larangan tersebut).

Hal ini terjadi pada.zaman khalifah Umar bin Khattab yang merekomendasi untuk menghindari seorang pria yang menyebarkan syubhat. Dan terjadi juga pada zaman Ibnu Umar munculnya penyeru-penyeru kebidahan dan syubhat. Ternukilkan juga dari Ibnu Sirin tentang seorang laki-laki yang menyerukan syubhat dengan membacakan sebuah Hadist maupun sebuah ayat Al Qur'an, maka beliau menutup kedua telinganya dan menghindari laki-laki tersebut.

Hati manusia akan sulit terlepas dari syubhat apabila telah masuk, terkena dan meyakini syubhat tersebut didalam hati.

Fitnah syahwat, Allah menciptakan manusia memberikan akal dan memberikan syahwat, Allah menciptakan hewan tidak memberikan akal dan memberikan syahwat, dan Allah menciptakan malaikat memberikannya akal namun tidak memberi syahwat. Sehingga manusia dapat terjatuh lebih hina dari binatang maupun lebih mulia dari malaikat bergantung dari kemampuan mengelola syahwatnya.

Syahwat menurut Ibnu Rajab adalah condongnya hati seseorang untuk menikmati sesuatu sesuai dengan kecondongan hatinya yang ingin dinikmati.

Surat Ali 'Imran ayat 14:

Arab: زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia cinta terhadap apa-apa yang diingini, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Menurut Imam Hasan Al Basri :
1. Seseorang yang dapat menahan dirinya dari sesuatu yang Allah haramkan. Sebagaimana contohnya adalah Nabi Yusuf yang digoda oleh istri penguasa.
2. Seseorang yang dapat meredam amarahnya. dari Rasulullah ﷺ:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

Artinya: "Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."(HR. Bukhari no. 6114, dan Muslim no. 2609)

Obat penyakit syahwat dan syubhat ;

1. Kita menyadari bahwa semua berada ditangan Allah, maka ia akan berdoa memohon perlindungan dari Allah ; salah satu doa yang sering dibaca adalah Rasulullah ﷺ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

"Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya."

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan."

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu."

2. Mempelajari ilmu agama.
3. Fokus menuntut ilmu akidah / tauhid, yang merupakan al ushul dari agama ini, karena syubhat kebatilan-kebatilan begitu banyak disampaikan kepada manusia.

Barakallahu fikum.
Jazakumullahu khair.


Anti FOMO Club

 ﷽ Kajian Kak Yogi. Parenting Bandung ISlamic Club. (BiSC) Apakah benar apabila seorang ayah tidak memiliki peran yang besar dalam pendidika...